Point-point Kesalahan Kaum Islam Liberal

Setelah kami menuliskan artikel yang berjudul Liberalisme Menggerogoti Aqidah Kaum Intelek Muda Indonesia  sebagai mukadimah, maka ini adalah tulisan kami yang selanjutnya sebagai rasa kecemburuan kami kepada mereka yang telah menghinakan robb yang telah menciptakan mereka sendiri, kami berlindung kepada Allah dari pemikiran-pemikiran dan keyakinan yang menyimpang, dan semoga kita selalu ditunjukan jalan-jalan kebenaran yang telah ditapaki oleh baginda Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya.

Diantara sebagian kerusakan kaum Islam Liberal adalah :
1. Mengatakan semua agama adalah benar (Padahal Allah menegaskan dalam Al Qur’an bahwa agama yang diridhoi disisi Allah hanyalah Islam)
2. Semua agama adalah baik, maka mereka juga akan mendapatkan pahala dan surga atas balasan kebaikannya (padahal biarpun orang kafir melakukan kebaikan yang banyak dan besar tidak akan pernah diterima kebaikan-kebaikannya sebelum mereka masuk kedalam agama Islam, dan kebaikan yang paling baik adalah mengakui bahwa hanya Allah lah satu-satunya robb yang pantas di sembah dan di ibadahi)
3. Orang yang kafir (menurut mereka) adalah orang yang tidak menjalankan agamanya masing-masing.
4. Melakukan kebohongan-kebohongan mengatasnamakan Agama.
5. Mereka mencampuradukan kebenaran kebenaran dan kebatilan.
6. Mendahulukan akal dari pada wahyu (padahal yang benar adalah akal harus tunduk dengan wahyu, dan akal yang benar akan senantiasa sejalan dengan wahyu).
7. Mereka memuliakan dan meninggikan agama-agama selain Islam.
8. Dsb.

Masih banyak lagi yang lainnya, seperti yang kita baca di media-media dan yang lainnya. Silahkan pembaca untuk menambahkan di kolom komentar  bila ada informasi lain untuk menambah pengetahuan dan menjaga diri kita dari pemikiran-pemikiran menyimpang.

Waallahu’alam

http://artikelassunnah.blogspot.com

Advertisements

Penyembelihan Hewan Kurban

ELSUNNAH™

Disunnahkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Syaikh Ali bin Hasan mengatakan: “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama’ dalam masalah ini.” Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu di dalam Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih beberapa onta qurbannya dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu untuk disembelih. (lih. Ahkaamul Idain, 32)

View original post 364 more words

من يحكم العراق ؟ siapa yang memerintah Iraq

ﺑﻌﺪ ﺍﺣﺘﻼﻝ ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﺎﻥ ﻃﻐﺎﺓ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻟﻠﻌﺮﺍﻕ، ﻭﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺃﺩﺧﻠﻮﺍ
ﻣﻌﻬﻢ ﻛﻞ ﺍﻟﻌﻤﻼﺀ ﻭﺍﻟﺨﻮﻧﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺪﻳﻨﻮﻥ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﻮﻻﺀ ﺣﺘﻰ
ﻳﺴﻠﻤﻮﻫﻢ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﺑﻌﺪ ﺍﻧﺴﺤﺎﺑﻬﻢ، ﻟﻴﺤﺎﻓﻈﻮﺍ ﻟﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﺼﺎﻟﺤﻬﻢ
ﻭﻳﻨﻔﺬﻭﺍ ﺳﻴﺎﺳﺎﺗﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻭﺍﻹﻗﻠﻴﻢ .
ﻓﻘﺪ ﺭُﻭﻱ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﻲ ﻟﻠﻌﺮﺍﻕ ) ﺑﺮﻳﻤﺮ( ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : ﺇﻧﻨﻲ
ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺘﻔﺎﻫﻢ ﻭﺍﻟﺘﻌﺎﻭﻥ ﻭﺍﻟﺘﻌﺎﻣﻞ ﻣﻊ ﺍﻟﺸﻴﻌﺔ ﻷﻧﻬﻢ ﺃﺻﺤﺎﺏ
ﻋﻨﻮﺍﻥ ﻣﺤﺪﺩ ﻭﻣﺮﺟﻌﻴﺔ ﻭﺍﺿﺤﺔ ﻟﻬﺎ ﺳﻠﻄﺔ ﻛﺎﻣﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺍﻟﻄﺎﺋﻔﺔ
ﺍﻟﺸﻴﻌﻴﺔ، ﺗﺄﻣﺮ ﻓﺎﻟﻜﻞ ﻳﻄﻴﻊ ﻭﻳﺴﺘﺠﻴﺐ، ﻓﻤﺜﻼً ﻓﻲ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺍﻟﻐﺰﻭ
ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﻲ ﻟﻠﻌﺮﺍﻕ ﺃﻋﻠﻦ ﺍﻟﻤﺮﺟﻌﻴﺔ ﺍﻟﺸﻴﻌﻲ )ﺁﻳﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﺴﺘﺎﻧﻲ (
ﻓﺘﻮﺍﻩ ﺑﻌﺪﻡ ﻣﻘﺎﺗﻠﺔ ﺍﻟﺠﻴﺶ ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﻲ ﺍﻟﻐﺎﺯﻱ ﺍﻟﻤﺤﺘﻞ ﻛﻤﺨﻠﺺ ﻟﻬﻢ،
ﺍﺳﺘﺠﺎﺑﺖ ﻟﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻄﺎﺋﻔﺔ ﺍﻟﺸﻴﻌﻴﺔ ﻭﺍﻟﺘﺰﻣﻮﺍ ﺃﻣﺮﻩ ﻭﻓﺘﻮﺍﻩ .
ﻓﻘﺪ ﺳﻤﻌﺖ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﻣﺤﺴﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺤﻤﻴﺪ ﺭﺋﻴﺲ ﻣﺠﻠﺲ ﺷﻮﺭﻯ
ﺍﻟﺤﺰﺏ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻲ ﻓﻘﺪ ﻗﺎﻝ : ﺃﻧﻪ ﺩُﻋﻲ ﺇﻟﻰ ﻣﺆﺗﻤﺮ ﻓﻲ
ﺃﻣﺮﻳﻜﺎ ﻫﻮ ﻭﻋﺪﻧﺎﻥ ﺍﻟﺒﺎﺟﻪ ﺟﻲ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ )ﺭﺋﻴﺲ
ﺍﻟﻤﺠﺲ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻲ ( ﺳﻨﺔ 2004 ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻧﺘﻬﺎﺀ
ﺍﻟﻤﺆﺗﻤﺮ ﻃﻠﺐ ﻣﻨﻬﻢ ﻟﻘﺎﺀ ﺑﺮﺗﻮﻛﻮﻟﻲ ﻣﻊ ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﻲ ) ﺑﻮﺵ
ﺍﻻﺑﻦ( ﻓﻘﺎﻝ ﺩ. ﻣﺤﺴﻦ ﺇﻧﻨﻲ ﻟﻢ ﺃﻓﻀﻞ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻠﻘﺎﺀ ﻭﺫﻫﺐ ﻋﺪﻧﺎﻥ
ﺍﻟﺒﺎﺟﻪ ﺟﻲ ﻭﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ، ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻟﻠﻘﺎﺀ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ
ﺑﻮﺵ ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﻟﻪ ﺇﻧﻨﻲ ﺃﺭﻳﺪ ﺍﻟﻠﻘﺎﺀ ﻣﻌﻚ ﻋﻠﻰ ﺍﻧﻔﺮﺍﺩ
ﻟﺪﻗﺎﺋﻖ ﻣﺤﺪﻭﺩﺓ، ﻓﺠﻔﻞ ﺑﻮﺵ ﻭﺃﺻﺎﺑﻪ ﺍﻟﺬﻫﻮﻝ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﺼﺮﻑ
ﺍﻟﻐﺮﻳﺐ، ﻭﺗﺪﺧﻠﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻮﺭ ) ﻛﻮﻧﺪﺍﻟﻴﺰﺍﺭﺍﻳﺲ( ﻣﺴﺘﺸﺎﺭﺓ ﺍﻷﻣﻦ
ﺍﻟﻘﻮﻣﻲ ﻭﺻﺎﺣﺒﺔ ﺳﻴﺎﺳﺔ ﺍﻟﻔﻮﺿﻰ ﺍﻟﺨﻼﻗﺔ، ﻭﺃﻗﻨﻌﺖ ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ ﻋﻠﻰ
ﺗﻠﺒﻴﺔ ﻃﻠﺒﻪ، ﻓﻠﻤﺎ ﺍﺧﺘﻠﻰ ﺍﻟﺮﺋﻴﺲ ﺑﻮﺵ ﺑﻪ ﻣﻊ ) ﻛﻮﻧﺪﺍﻟﻴﺰﺍﺭﺍﻳﺲ (
ﻭﻭﺯﻳﺮ ﺧﺎﺭﺟﻴﺘﻪ ) ﻛﻮﻟﻦ ﺑﺎﻭﻝ( ﻗﺎﻝ ﻟﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ: ﺳﻴﺪﻱ
ﺑﻮﺵ ﺳﻠﻤﻮﻧﺎ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻟﻨﺤﻜﻤﻪ ﻭﺳﻨﻜﻮﻥ ﺧﺪّﺍﻣﻜﻢ ﺍﻷﻣﻨﺎﺀ ﻋﻠﻰ
ﻣﺼﺎﻟﺤﻜﻢ ﻭﺳﻨﻨﻔﺬ ﻛﻞ ﻣﺎ ﺗﺮﻳﺪﻭﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﻄﻘﺔ، ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻧﺘﻬﺎﺀ
ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﻠﺔ ﻧﻘﻞ ﺍﻟﻮﺯﻳﺮ ) ﻛﻮﻟﻦ ﺑﺎﻭﻝ( ﻣﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﺤﻜﻴﻢ ﺇﻟﻰ ﻋﺪﻧﺎﻥ
ﺍﻟﺒﺎﺟﻪ ﺟﻲ ﻭﻫﻮ ﻳﺘﻌﺠﺐ ﻣﻦ ﺳﺨﻒ ﻭﺗﻔﺎﻫﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻄﺮﺡ، ﺛﻢ ﻧﻘﻞ
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﺍﻟﺒﺎﺟﻪ ﺟﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺪﻛﺘﻮﺭ ﻣﺤﺴﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺤﻤﻴﺪ.
ﻧﻌﻢ ﺍﺣﺘﻼﻝ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﺗﻢ ﺑﻤﺴﺎﻋﺪﺓ ﻭﻣﻮﺍﻓﻘﺔ ﻭﺗﻔﺎﻫﻢ ﺃﻣﺮﻳﻜﻲ ﺇﻳﺮﺍﻧﻲ
ﻭﺗﻼﻗﺖ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺠﻤﻌﻬﻢ ﻟﺘﻤﺰﻳﻖ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻌﺮﺑﻲ ﻭﺍﻹﺳﻼﻣﻲ
ﺍﻟﺴﻨﻲ، ﻓﺎﻟﺤﺮﺏ ﺍﻟﺪﺍﺋﺮﺓ ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺳﻮﺭﻳﺎ ﻭﻣﺎ ﻳﺠﺮﻱ ﻓﻲ ﻟﺒﻨﺎﻥ
ﻭﺍﻟﻴﻤﻦ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﻏﺒﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺤﺮﻳﻦ ﻹﻳﺮﺍﻥ ﺍﻟﻴﺪ ﺍﻟﻄﻮﻟﻰ ﻹﺷﻌﺎﻝ ﻫﺬﻩ
ﺍﻟﺤﺮﻭﺏ ﺍﻟﻄﺎﺋﻔﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺬﻫﺒﻴﺔ ﻭﻟﻢ ﻧﺴﻤﻊ ﻣﻦ ﺃﻣﺮﻳﻜﺎ ﺃﻭ ﺍﻟﻐﺮﺏ ﺃﻥ ﺃﻱ
ﻣﻠﻴﺸﻴﺔ ﺷﻴﻌﻴﺔ ﻣﺜﻞ ﺣﺰﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺣﺮﺏ ﺳﻮﺭﻳﺎ ﺃﻭ
ﺍﻟﻤﻠﻴﺸﻴﺎﺕ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻴﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺤﻮﺛﻴﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻬﻢ ﻣﻨﻈﻤﺎﺕ ﺇﺭﻫﺎﺑﻴﺔ ﻷﻥ
ﻭﺟﻮﺩﻫﻢ ﻳﺤﻘﻖ ﻟﺪﻭﻝ ﺍﻟﻐﺮﺏ ﻭﺃﻣﺮﻳﻜﻴﺎ ﻛﺜﻴﺮﺍً ﻣﻦ ﻏﺎﻳﺎﺗﻬﻢ، ﻓﻘﺪ
ﺳﻤﻌﺖ ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻔﺎﺭﺓ ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﻴﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺤﺮﻳﻦ ﻫﻲ ﺍﻟﻤﺮﺟﻌﻴﺔ ﻟﻠﺸﻴﻌﺔ
ﻫﻨﺎﻙ.
ﻓﺈﻳﺮﺍﻥ ﺍﻵﻥ ﻫﻲ ﻣﻦ ﻳﺤﻜﻢ ﺍﻟﺴﻴﻄﺮﺓ ﺍﻟﻜﺎﻣﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ ﻭﻳﺪﻳﺮﻩ
ﻣﻦ ﺧﻼﻝ ﺃﺯﻻﻣﻪ ﻭﺑﺎﻟﺘﻔﺎﻫﻢ ﻣﻊ ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﺎﻥ، ﻓﺎﻟﻌﺮﺍﻕ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻣﺤﺘﻞ
ﺑﺎﻟﻜﺎﻣﻞ ﻣﻦ ﺇﻳﺮﺍﻥ، ﻓﺮﺋﻴﺲ ﺍﻟﻮﺯﺭﺍﺀ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻲ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺇﻻ ﻃﺮﻃﻮﺭ
ﺻﻐﻴﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺴﻔﻴﺮ ﺍﻹﻳﺮﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺑﻐﺪﺍﺩ ﻳﺴﺘﺪﻋﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻔﺎﺭﺓ
ﻭﻳﻌﻄﻴﻪ ﻭﺟﺒﺔ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻤﺎﺕ، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻲ ﺑﺘﻨﻔﻴﺬﻫﺎ ﺑﺎﻟﻜﺎﻣﻞ، ﻻ
ﺑﻞ ﺇﻥ ﺍﻟﺮﻏﺒﺎﺕ ﺍﻹﻳﺮﺍﻧﻴﺔ ﻫﻲ ﺑﻤﺜﺎﺑﺖ ﺃﻭﺍﻣﺮ ﻟﻠﺘﻨﻔﻴﺬ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻲ
ﻭﺣﻜﻮﻣﺘﻪ .
ﻓﻔﻲ ﺳﺠﻮﻥ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻲ ﻣﺎ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺃﻟﻒ ﺳﻨﻲ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ
ﺍﻟﺴﺠﻮﻥ ﺍﻟﺴﺮﻳﺔ، ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺃﻟﻒ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻳﺴﺎﻣﻮﻥ ﺃﺷﺪ ﺃﻧﻮﺍﻉ
ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﻭﺍﻻﻏﺘﺼﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﺤﻞ ﻭﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ ﻳﻘﺪﻡ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻲ ﻭﺟﺒﺔ
ﺇﻋﺪﺍﻣﺎﺕ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺣﺘﻰ ﻭﺻﻞ ﻣﺎ ﻗﺘﻞ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻋﻠﻰ
ﺃﻳﺪﻳﻬﻢ ﻭﺃﻳﺪﻱ ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﺎﻥ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻣﻠﻴﻮﻥ ﻭﻧﺼﻒ ﺍﻟﻤﻠﻴﻮﻥ ﻗﺘﻴﻞ
ﻭﻣﻔﻘﻮﺩ، ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻹﻋﺪﺍﻣﺎﺕ ﺗﺄﺗﻲ ﺗﻠﺒﻴﺔ ﻟﺤﻘﺪ ﺩﻓﻴﻦ ﺃﺳﻮﺩ ﻣﻦ ﺣﻜﺎﻡ
ﺇﻳﺮﺍﻥ ﻭﺍﻟﻌﺮﺍﻕ، ﻓﻘﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻲ ﻓﻲ ﺣﻔﻞ ﺩﻳﻨﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺠﻒ ﺃﻥ
ﺍﻟﻤﻌﺮﻛﺔ ﻣﺎ ﺯﺍﻟﺖ ﺩﺍﺋﺮﺓ ﻭﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺑﻴﻦ ﺃﺣﻔﺎﺩ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ
ﻭﺃﻧﺼﺎﺭﻩ ﻭﺃﺣﻔﺎﺩ ﻳﺰﻳﺪ ﻭﺃﻧﺼﺎﺭﻩ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻴﻮﻡ، ﻭﻫﻢ ﻳﺘﻘﺮﺑﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻰ ﺣﺪ ﺯﻋﻤﻬﻢ ﻭﻋﻘﻴﺪﺗﻬﻢ ﺍﻟﺒﺎﻃﻠﺔ ﻓﻲ ﺫﺑﺢ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺇﻗﺼﺎﺋﻬﻢ
ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻜﻢ ﻻ ﺑﻞ ﺗﻬﺠﻴﺮﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺪﻥ ﺍﻟﻌﺮﺍﻗﻴﺔ ﻭﺧﺎﺻﺔ ﺑﻐﺪﺍﺩ
ﻭﺍﻟﻤﻮﺻﻞ ﺍﻟﺘﻲ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻴﻬﺎ %90 ﻭﺍﻵﻥ ﺃﺻﺒﺤﻮﺍ ﻻ ﻳﺰﻳﺪﻭﻥ ﻋﻦ
%10 .
ﻫﺬﺍ ﻭﻳﻮﺟﺪ ﻓﻲ ﺇﻳﺮﺍﻥ ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻣﻠﻴﺸﻴﺔ ﻋﺮﺍﻗﻴﺔ ﺷﻴﻌﻴﺔ
ﻣﺴﻠﺤﺔ ﻣﺮﺟﻌﻴﺘﻬﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎً ﺇﻳﺮﺍﻥ، ﻭﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻣﻨﻄﻠﻖ ﺩﻳﻨﻲ ﻃﺎﺋﻔﻲ
ﺑﺎﻟﻮﻻﻳﺔ ﺍﻟﻜﺎﻣﻠﺔ ﻭﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻟﻠﻮﻟﻲ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ )ﺍﻟﺨﺎﻣﻨﺌﻲ ( ، ﺛﻢ ﺇﻥ
ﺇﻳﺮﺍﻥ ﺗﺴﺘﺪﻋﻲ ﻗﺎﺩﺓ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻠﻴﺸﻴﺎﺕ ﻭﺗﻄﻠﺐ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﻘﺪﻣﻮﺍ
ﻣﻮﺍﺯﻧﺔ ﻣﻠﻴﺸﻴﺎﺗﻬﻢ ﻭﻳﻌﻄﻮﻫﻢ ﻛﺎﻣﻞ ﺍﻟﻤﻮﺍﺯﻧﺔ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺷﺮﻭﻁ ﺃﻥ
ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻜﻞ ﻣﻠﻴﺸﻴﺔ ﻣﺮﺷﺪ ﺳﻴﺎﺳﻲ ﺇﻳﺮﺍﻧﻲ، ﻭﻣﺮﺷﺪ ﻋﺴﻜﺮﻱ
ﺇﻳﺮﺍﻧﻲ، ﻭﻣﺴﺆﻭﻝ ﻣﺎﻟﻴﺔ ﺇﻳﺮﺍﻧﻲ، ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻠﻴﺸﻴﺎﺕ ﻫﻲ ﺍﻟﻘﻮﺓ
ﺍﻟﻀﺎﺭﺑﺔ ﻹﻳﺮﺍﻥ ﺇﺿﺎﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺛﻤﺎﻧﻮﻥ ﺃﻟﻒ ﻋﺴﻜﺮﻱ ﻭﻣﺨﺎﺑﺮﺍﺕ ﺇﻳﺮﺍﻧﻴﺔ
ﺗﺤﺘﻞ ﺍﻟﻌﺮﺍﻕ، ﻭﻣﺎ ﻳﺠﺮﻱ ﻣﻦ ﺗﻀﺨﻴﻢ ﻟﻠﻘﺎﻋﺪﺓ ﻣﻦ ﺇﻳﺮﺍﻥ ﻭﺃﻣﺮﻳﻜﺎ
ﻣﺎ ﻫﻮ ﺇﻻ ﻏﻄﺎﺀ ﻟﻬﺬﻩ ﺍﻟﺤﺮﺏ ﺍﻟﻤﺸﺘﺮﻛﺔ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﻠﻒ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻧﻲ
ﺍﻟﻠﻌﻴﻦ .
ﻧﻌﻢ ﻟﻘﺪ ﺗﻼﻗﺖ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﻴﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﻤﺼﺎﻟﺢ ﺍﻹﻳﺮﺍﻧﻴﺔ ﺍﻟﺸﻴﻌﻴﺔ
ﻓﻲ ﺗﻔﺴﻴﺦ ﻭﺣﺪﺓ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻌﺮﺑﻲ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ﻭﺗﻤﺰﻳﻖ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ
ﻭﺇﺿﻌﺎﻓﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﻻ ﺗﻘﻮﻡ ﻟﻸﻣﺔ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﻗﺎﺋﻤﺔ، ﻭﺇﻥ ﻣﺎ ﻳﺠﺮﻱ
ﺍﻵﻥ ﻓﻲ ﺗﺮﻛﻴﺎ ﻣﻦ ﻗﻼﻗﻞ ﻭﻣﺸﺎﻛﻞ ﻫﻮ ﻧﺘﻴﺠﺔ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻴﺎﺳﺔ
ﺍﻷﻣﺮﻳﻜﻴﺔ ﺍﻹﻳﺮﺍﻧﻴﺔ ﺍﻟﺤﺎﻗﺪﺓ ﺍﻟﻤﻌﺎﺩﻳﺔ

Mengatur Waktu

Ketika seorang ustadz ditanya oleh seseorang: “Bagaimana cara mengatur waktu antara kuliah dan belajar ilmu syar’i/ngaji/menghafal al-qur’an??”

Maka, ustadz ini menjawab sebagaimana ustadznya beliau dulu menjawab yang serupa jika ditanya tentang hal ini.. Maka tanggapan beliau ketika ditanya tentang hal ini adalah:”Ini adalah pertanyaan yang sangat aneh, mengapa aneh?? Karena teman-teman kita tidak pernah menanyakan bagaimana caranya membagi waktu antara kuliah dan pacaran, teman-teman kita tidak pernah menanyakan bagaimana cara membagi waktu kuliah dengan bermain bola, bermain basket, demonstrasi, naik gunung, main game, rapat, dll..

Mereka tidak pernah menanyakan hal ini, dan buktinya mereka bisa menjalankan keduanya..

Apa maknanya? Makna dari hal ini sangatlah dalam, ketika teman-teman kita ada yang bisa membagi waktunya dengan melakukan kemaksiatan atau melakukan hal-hal yang bisa menjauhkannya dari ketaatan kepada Allah, kita malah menanyakan bagaimana cara membagi waktu dengan hal-hal yang terkait dengan ketaatan kepada Allah, misalnya membagi waktu antara kuliah dengan menuntut ilmu syar’i..

Teman-teman kita yang merupakan aktivis BEM, mereka rapat setiap malam, terutama ketika akan melakukan demo, mereka sampai kewalahan bahkan ada yang sampai meninggalkan kuliah, praktikum inhal, namun kenyataannya mereka bisa membagi waktu dengan kondisi mereka yang  seperti itu..

Teman-teman kita yang pacaran juga seperti itu, sebelum kuliah mereka harus mengantar  pacarnya terlebih dahulu, setelah itu siangnya mereka janjian lagi untuk menentukan akan  makan siang dimana, nanti malam mereka janjian lagi untuk makan dimana, mereka juga janjian untuk nonton film-film terbaru di bioskop-bioskop, dan lain sebagainya. Dan lagi-lagi mereka tidak pernah mengeluh dengan aktivitas mereka, mereka tidak pernah menanyakan bagaimana caranya membagi waktu antara kuliah dan pacaran..

Ketika teman-teman kita bisa membagi waktunya untuk kuliah dan melakukan kemaksiatan atau hal-hal yang menjauhkan dari ketaatan, mereka tidak pernah mengeluh, lantas mengapa kita justru mengeluh?? Kita mengeluh karena tidak bisa membagi waktu antara kuliah dan melakukan ketaatan kepada Allah???!

Maka renungkanlah hal ini, agar tidak akan muncul pertanyaan seperti ini lagi..”

Ketahuilah, bahwa hasil apapun yang kita raih selama kita tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu), itu akan sebanding dengan usaha yang telah kita kerahkan.. dan sejauh apa target yang kita harapkan.. Misalnya kalau kita hanya ingin sekedar kenal Bahasa Arab, akan berbeda hasilnya dengan orang yang ingin bisa menguasai Bahasa Arab..

Intinya adalah bagaimana cara membagi waktu antara belajar agama dan ilmu dunia, berbagi waktu dengan keluarga, agar semua hak dapat ditunaikan dengan baik,, karena kalau hal ini tidak dilakukan, untuk apa kita hidup di dunia ini??

Semoga kita bisa mengambil manfaat dan pelajaran dari hal ini, dan semoga yang sedikit ini bisa dijadikan sebagai motivasi untuk diri kita sendiri..

*Sumber tulisan ini adalah rekaman kajian dari salah seorang ustadz, waktu itu sedang pelajaran membaca kitab, kemudian ada pertanyaan yang dilontarkan seperti ini *

Tulislah pengalamanmu…

saya mendapati sebagian orang anti dengan menulis pengalan berharga dalam hidupnya, mereka yakin bisa mengingatnya sewaktu waktu, dan alangkah baiknya menulis pengalaman supaya ingatannya lebih detail, mereka juga mengatakan bahwa menulis pengalaman dan pelajaran harian hanyalah pekerjaan cewek, saya melihat bahwa ini adalah salah besar, kita perhatikan ada banyak ulama dan para pemikir yang rutin menulis tuilsan hariannya atau diarinya, dan itu bermamfaat bagi orang lain, salah satu contohnya adalah kitab صيد الخاطر  (menangkap apa yang terlintas), oleh karena itu menulislah, dan jangan pedulikan apa kata mereka…

JERITAN SI BUJANG LAPUK DAN PERAWAN TUA

JERITAN ANAK MUDA

Siang datang bukan untuk mengejar malam, malam tiba bukan untuk mengejar siang. Siang dan malam datang silih berganti dan takkan pernah kembali lagi. Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti sesuatu yang tidak pasti. Sementara waktu berjalan terus dan usia semakin bertambah, namun satu pertanyaan yang selalu mengganggu “Kapan aku menikah??”.

Resah dan gelisah kian menghantui hari-harinya. Manakala usia telah melewati kepala tiga, sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat disekitarnya, semua teman-teman seusianya, bahkan yang lebih mudah darinya telah naik ke pelaminan atau sudah memiliki keturunan. Baginya, ini suatu kenyataan yang menyakitkan sekaligus membingungkan.Menyakitkan tatkala masyarakat memberinya gelar sebagai “bujang lapuk” atau“perawan tua” , “tidak laku”.Membingungkan tatkala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.

Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, bahwa semakin tua usia akan semakin sulit mendapatkan jodoh. Sehingga menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Sebagian wanita yang masih sendiri terkadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.

Ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri sebab hal ini bisa saja terjadi pada saudari kita, keponakan, sepupu atau keluarga kita. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini, tingginya batas mahar dan uang nikah yang ditetapkan. Hal ini banyak terjadi dinegeri kita -khususnya di daerah sulawesi-. Telah banyak kisah para pemuda yang sudah ingin sekali menikah, mundur dari lamarannya hanya karena tidak mampu menghadapi mahar yang ditetapkan. Setan pun mendapatkan celah untuk menggelincirkan anak-anak Adam sehingga melakukan perkara-perkara terlarang mulai dari kawin lari sampai pada perbuatan-perbuatan yang hina (zina), bahkan sampai menghamili sebagai solusi dari semua ini. Padahal agama yang mulia ini telah menjelaskan bahwa jangankan zina, mendekati saja diharamkan,

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”. (QS. Al-Israa’:32 )

Al-Allamah Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy-rahimahullah- berkata, “Di dalam larangan dari mendekati zina dengan cara melakukan pengantar-pengantarnya terdapat larangan dari zina –secara utama-, karena sarana menuju sesuatu, jika ia haram, maka tujuan tentunya haram menurut konteks hadits”.[Lihat Fathul Qodir(3/319)]

Pembaca yang budiman, sesungguhnya islam adalah agama yang mudah; Allah I telah anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat bagi mereka. Hal ini nampak jelas dari syari’at-syari’at dan aturan yang ada di dalamnya, dipenuhi dengan rahmat, kemurahan dan kemudahan. Allah I telah menegaskan di dalam kitab-Nya yang mulia,

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)”. (QS.Thohaa :1-3)

Allah I berfirman

“Allah tidak menghendaki menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.“(QS. : Al-Maidah: 6)

Namun sangat disayangkan kalau kemudahan ini, justru ditinggalkan. Malah mencari-cari sesuatu yang sukar dan susah sehingga memberikan dampak negatif dalam menghalangi kebanyakan orang untuk menikah, baik dari kalangan lelaki, maupun para wanita, dengan meninggikan harga uang pernikahan dan maharnya yang tak mampu dijangkau oleh orang yang datang melamar. Akhirnya seorang pria membujang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum ia mendapatkan mahar yang dibebankan. Sehingga banyak menimbulkan berbagai macam kerusakan dan kejelekan, seperti menempuh jalan berpacaran. Padahal pacaran itu haram, karena ia adalah sarana menuju zina. Bahkan ada yang menempuh jalan yang lebih berbahaya, yaitu jalan zina !!

Di sisi yang lain, hal tersebut akan menjadikan pihak keluarga wanita menjadi kelompok materealistis dengan melihat sedikit banyaknya mahar atau uang nikah yang diberikan. Apabila maharnya melimpah ruah, maka merekapun menikahkannya dan mereka tidak melihat kepada akibatnya; orangnya jelek atau tidak yang penting mahar banyak !! Jika maharnya sedikit, merekapun menolak pernikahan, walaupun yang datang adalah seorang pria yang diridhoi agamanyadan akhlaknya serta memiliki kemampuan menghidupi istri dan anak-anaknya kelak. Padahal Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-telah mamperingatkan,

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِيْنَهُ فَزَوِّجُوْهُ . إِلَّا تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِيْ الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika datang seorang lelaki yang melamar anak gadismu, yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah (musibah) dan kerusakan yang merata dimuka bumi “[HR.At-Tirmidziy dalam Kitab An-Nikah(1084 & 1085), dan Ibnu Majah dalam Kitab An-Nikah(1967). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalamAsh-Shohihah (1022)]

Jadi, yang terpenting dalam agama kita adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sekedar kekayaan dan kemewahan. Sebuah rumah yang berhiaskan ketaqwaan dan kesholehan dari sepasang suami istri adalah modal surgawi, yang akan melahirkan kebahagian, kedamaian, kemuliaan, dan ketentraman. Namun sangat disayangkan sekali, realita yang terjadi di masyarakat kita, jauh dari apa yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hanya karena perasaan “malu” dan “gengsi” hingga rela mengorbankan ketaatan kepada Allah; tidak merasa cukup dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan dalam syari’at-Nya. Mereka melonjakkan biaya nikah, dan mahar yang tidak dianjurkan di dalam agama yang mudah ini. Akhirnya pernikahan seakan menjadi komoditi yang mahal, sehingga menjadi penghalang bagi para pemuda untuk menyambut seruan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya”. [HR. Al-Bukhoriy (4778), dan Muslim (1400), Abu Dawud (2046), An-Nasa’iy (2246)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah menganjurkan umatnya untuk mempermudah dan jangan mempersulit dalam menerima lamaran dengan sabdanya,

مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ تَسْهِيْلُ أَمْرِهَا وَقِلَّةُ صَدَاقِهَا

“Diantara berkahnya seorang wanita, memudahkan urusan (nikah)nya, dan sedikit maharnya”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (24651), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (2739), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (14135), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (4095), Al-Bazzar dalamAl-Musnad (3/158), Ath-Thobroniy dalam Ash-Shoghir (469). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalamShohih Al-Jami’ (2231)]

Oleh karena itu, pernah seseorang datang kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- seraya berkata,“Sesungguhnya aku telah menikahi seorang wanita.” Beliau bersabda, “Engkau menikahinya dengan mahar berapa?” orang ini berkata:”empat awaq (yaitu seratus enam puluh dirham)”. Maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

عَلَى أَرْبَعِ أَوَاقٍ ؟ كَأَنَّمَا تَنْحِتُوْنَ الْفِضَّةَ مِنْ عَرْضِ هَذَا الْجَبَلِ مَا عِنْدَنَا مَا نُعْطِيْكَ وَلَكِنْ عَسَى أَنْ نَبْعَثَكَ فِيْ بَعْثٍ تُصِيْبُ مِنْهُ

“Dengan empat awaq (160 dirham)? Seakan-akan engkau telah menggali perak dari sebagian gunung ini. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa kami berikan kepadamu. Tapi mudah-mudahan kami dapat mengutusmu dalam suatu utusan (penarik zakat) ; engkau bisa mendapatkan (empat awaq tersebut)”. [HR, Muslim(1424)].

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata tentang sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang kami huruf tebalkan, “Makna ucapan ini, dibencinya memperbanyak mahar hubungannya dengan kondisi calon suami”.[LihatSyarh Shohih Muslim (6/214)]

Perkara meninggikan mahar, dan mempersulit pemuda yang mau menikah, ini telah diingkari oleh Umar -radhiyallahu ‘anhu-. Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,

أَلَا لَا تَغَالُوْا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرَمَةً فِيْ الدُّنْيَا أَوْ تَقْوًى عِنْدَ اللهِ لَكَانَ أَوْلَاكُمْ بِهَا النََّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِمْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلَا أُصْدِقَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ أَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشَرَ أُوْقِيَةٌ

“Ingatlah, jangan kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada wanita karena sesungguhnya jika hal itu adalah suatu kemuliaan di dunia dan ketaqwaan di akhirat, maka Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang palimg berhak dari kalian. Tidak pernah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memberikan mahar kepada seorang wanitapun dari istri-istri beliau dan tidak pula diberi mahar seorang wanitapun dari putri-putri beliau lebih dari dua belas uqiyah (satu uqiyah sama dengan 40 dirham)”.[HR.Abu Dawud (2106), At-Tirmidzi(1114),Ibnu Majah(1887), Ahmad(I/40&48/no.285&340). Di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3204)]

Pembaca yang budiman, pernikahan memang memerlukan materi, namun itu bukanlah segala-galanya, karena agungnya pernikahan tidak bisa dibandingkan dengan materi. Janganlah hanya karena materi, menjadi penghalang bagi saudara kita untuk meraih kebaikan dengan menikah. Yang jelas ia adalah seorang calon suami yang taat beragama, dan mampu menghidupi keluarganyanya kelak. Sebab pernikahan bertujuan menyelamatkan manusia dari perilaku yang keji (zina), dan mengembangkan keturunan yang menegakkan tauhid di atas muka bumi ini.

Oleh karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- perkah bersabda,

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُ الْغَازِيْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِيْ يُرِيْدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِيْ يُرِيْدُ التَّعَفُّفَ

“Ada tiga orang yang wajib bagi Allah untuk menolongnya: Orang yang berperang di jalan Allah, budak yang ingin membebaskan dirinya, dan orang menikah yang ingin menjaga kesucian diri“. [HR. At-Tirmidziy (1655), An-Nasa’iy (3120 & 1655), Ibnu Majah (2518). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (3089)]

Orang tua yang bijaksana tidak akan tentram hatinya sebelum ia menikahkan anaknya yang telah cukup usia. Karena itu adalah tanggung-jawab orang tua demi menyelamatkan masa depan anaknya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran orang tua semua untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Ingatlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-

إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Agama adalah mudah dan tidak seorangpun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan”. [HR. Al-Bukhary (39), dan An-Nasa’iy(5034)]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan umatnya untuk menerapkan prinsip islam yang mulia ini dalam kehidupan mereka sebagaimana dalam sabda Beliau,

يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تُنَفِّرُوْا

“permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari”. [HR.Al-Bukhary(69& 6125), dan Muslim(1734)]

Syaikh Al-Utsaimin-rahimahullah- berkata, “Kalau sekiranya manusia mencukupkan dengan mahar yang kecil, mereka saling tolong menolong dalam hal mahar(yakni tidak mempersulit) dan masing-masing orang melaksanakan masalah ini, niscaya masyarakat akan mendapatkan kebaikan yang banyak, kemudahan yang lapang, serta penjagaan yang besar, baik kaum lelaki maupun wanitanya”.[Lihat Az-Zawaaj]

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 54 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201).

SUMBER : http://almakassari.com/?p=234&print=1

sumber blog dr. Abu Hana

Siapakah WAHABI ???

Al Ustadz Ruwaifi’ Bin Sulaimi Lc.

Selubung Makar di Balik Julukan Wahhabi

Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam, ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullahu [1]. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik itu semua …?

Para pembaca, dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia. Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah. Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Fenomena ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang diemban Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Musuh-musuh tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Di Najd dan sekitarnya:

Para ulama suu’ yang memandang al-haq sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai al-haq.
Orang-orang yang dikenal sebagai ulama namun tidak mengerti tentang hakekat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.
Orang-orang yang takut kehilangan kedudukan dan jabatannya.

(Lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir hal.90-91, ringkasan keterangan Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz)

2. Di dunia secara umum:

Mereka adalah kaum kafir Eropa; Inggris, Prancis dan lain-lain, Daulah Utsmaniyyah, kaum Shufi, Syi’ah Rafidhah, Hizbiyyun dan pergerakan Islam; Al-Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, dan para kaki tangannya.

Bentuk permusuhan mereka beragam. Terkadang dengan fisik (senjata) dan terkadang dengan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya. Adapun fisik (senjata), maka banyak diperankan oleh Dinasti Utsmani yang bersekongkol dengan barat (baca: kafir Eropa) –sebelum keruntuhannya–. Demikian pula Syi’ah Rafidhah dan para hizbiyyun. Sedangkan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya, banyak dimainkan oleh kafir Eropa melalui para missionarisnya, kaum shufi, dan tak ketinggalan pula Syi’ah Rafidhah dan hizbiyyun[2]. Dan ternyata, memunculkan istilah ‘Wahhabi’ sebagai julukan bagi pengikut dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan trik sukses mereka untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid tersebut. Padahal, istilah ‘Wahhabi’ itu sendiri merupakan penisbatan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi -pen) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab.” (Lihat Imam wa Amir wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162)

Tak cukup sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya menjadi sejoli bagi julukan keji tersebut. Tak ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk dan keji tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai dengan realitanya. Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster yang mengerikan bagi umat. Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli dalam menerima informasi. Terlebih ketika narasumbernya adalah orang kafir, munafik, atau ahlul bid’ah. Agar kita tidak dijadikan bulan-bulanan oleh kejamnya informasi orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu.

Meluruskan Tuduhan Miring tentang Wahhabi

1. Tuduhan: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang mengaku sebagai Nabi [3], ingkar terhadap Hadits nabi [4], merendahkan posisi Nabi, dan tidak mempercayai syafaat beliau.

Bantahan:
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang sangat mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terbukti dengan adanya karya tulis beliau tentang sirah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik Mukhtashar Siratir Rasul, Mukhtashar Zadil Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad atau pun yang terkandung dalam kitab beliau Al-Ushul Ats-Tsalatsah.
Beliau berkata: “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat –semoga shalawat dan salam-Nya selalu tercurahkan kepada beliau–, namun agamanya tetap kekal. Dan inilah agamanya; yang tidaklah ada kebaikan kecuali pasti beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tidak ada kejelekan kecuali pasti beliau peringatkan. Kebaikan yang telah beliau sampaikan itu adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan kejelekan yang beliau peringatkan adalah kesyirikan dan segala sesuatu yang dibenci dan dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus beliau kepada seluruh umat manusia, dan mewajibkan atas tsaqalain; jin dan manusia untuk menaatinya.” (Al-Ushul Ats-Tsalatsah)
Beliau juga berkata: “Dan jika kebahagiaan umat terdahulu dan yang akan datang karena mengikuti para Rasul, maka dapatlah diketahui bahwa orang yang paling berbahagia adalah yang paling berilmu tentang ajaran para Rasul dan paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang paling mengerti tentang sabda para Rasul dan amalan-amalan mereka serta benar-benar mengikutinya, mereka itulah sesungguhnya orang yang paling berbahagia di setiap masa dan tempat. Dan merekalah golongan yang selamat dalam setiap agama. Dan dari umat ini adalah Ahlus Sunnah wal Hadits.” (Ad-Durar As-Saniyyah, 2/21)
Adapun tentang syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku beriman dengan syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliaulah orang pertama yang bisa memberi syafaat dan juga orang pertama yang diberi syafaat. Tidaklah mengingkari syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini kecuali ahlul bid’ah lagi sesat.” (Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 118)
2. Tuduhan: Melecehkan Ahlul Bait
Bantahan:
Beliau berkata dalam Mukhtashar Minhajis Sunnah: “Ahlul Bait Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hak atas umat ini yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Mereka berhak mendapatkan kecintaan dan loyalitas yang lebih besar dari seluruh kaum Quraisy…” (Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/446)
Di antara bukti kecintaan beliau kepada Ahlul Bait adalah dinamainya putra-putra beliau dengan nama-nama Ahlul Bait: ‘Ali, Hasan, Husain, Ibrahim dan Abdullah.
3. Tuduhan: Bahwa beliau sebagai Khawarij, karena telah memberontak terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Al-Imam Al-Lakhmi telah berfatwa bahwa Al-Wahhabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij ‘Ibadhiyyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi, juz 11.
Bantahan:
Adapun pernyataan bahwa Asy-Syaikh telah memberontak terhadap Daulah Utsmaniyyah, maka ini sangat keliru. Karena Najd kala itu tidak termasuk wilayah teritorial kekuasaan Daulah Utsmaniyyah [5]. Demikian pula sejarah mencatat bahwa kerajaan Dir’iyyah belum pernah melakukan upaya pemberontakan terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Justru merekalah yang berulang kali diserang oleh pasukan Dinasti Utsmani. Lebih dari itu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan –dalam kitabnya Al-Ushulus Sittah–: “Prinsip ketiga: Sesungguhnya di antara (faktor penyebab) sempurnanya persatuan umat adalah mendengar lagi taat kepada pemimpin (pemerintah), walaupun pemimpin tersebut seorang budak dari negeri Habasyah.”Dari sini nampak jelas, bahwa sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap waliyyul amri (penguasa) sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan ajaran Khawarij.
Mengenai fatwa Al-Lakhmi, maka yang dia maksudkan adalah Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan kelompoknya, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Hal ini karena tahun wafatnya Al-Lakhmi adalah 478 H, sedangkan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli 1792 M. Amatlah janggal bila ada orang yang telah wafat, namun berfatwa tentang seseorang yang hidup berabad-abad setelahnya. Adapun Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum, maka dia meninggal pada tahun 211 H. Sehingga amatlah tepat bila fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikutnya, Al-Lakhmi merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara, dan fitnah Wahhabiyyah Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi, hubungan antara Najd dengan Andalusia dan Afrika Utara amatlah jauh. Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan bahwa Wahhabiyyah Khawarij yang diperingatkan Al-Lakhmi adalah Wahhabiyyah Rustumiyyah, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya [6].
Lebih dari itu, sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap kelompok Khawarij sangatlah tegas. Beliau berkata –dalam suratnya untuk penduduk Qashim–: “Golongan yang selamat itu adalah kelompok pertengahan antara Qadariyyah dan Jabriyyah dalam perkara taqdir, pertengahan antara Murji’ah dan Wa’idiyyah (Khawarij) dalam perkara ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, pertengahan antara Haruriyyah (Khawarij) dan Mu’tazilah serta antara Murji’ah dan Jahmiyyah dalam perkara iman dan agama, dan pertengahan antara Syi’ah Rafidhah dan Khawarij dalam menyikapi para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal 117). Dan masih banyak lagi pernyataan tegas beliau tentang kelompok sesat Khawarij ini.
4. Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.[7]
Bantahan:
Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: “Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)
5. Tuduhan: Wahhabiyyah adalah madzhab baru dan tidak mau menggunakan kitab-kitab empat madzhab besar dalam Islam.[8]
Bantahan:
Hal ini sangat tidak realistis. Karena beliau mengatakan –dalam suratnya kepada Abdurrahman As-Suwaidi–: “Aku kabarkan kepadamu bahwa aku –alhamdulillah– adalah seorang yang berupaya mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pembawa aqidah baru. Dan agama yang aku peluk adalah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dianut para ulama kaum muslimin semacam imam yang empat dan para pengikutnya.” (Lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 75)
Beliau juga berkata –dalam suratnya kepada Al-Imam Ash-Shan’ani–: “Perhatikanlah –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu– apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat sepeninggal beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Serta apa yang diyakini para imam panutan dari kalangan ahli hadits dan fiqh, seperti Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka–, supaya engkau bisa mengikuti jalan/ ajaran mereka.” (Ad-Durar As-Saniyyah 1/136)
Beliau juga berkata: “Menghormati ulama dan memuliakan mereka meskipun terkadang (ulama tersebut) mengalami kekeliruan, dengan tidak menjadikan mereka sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun mencemooh perkataan mereka dan tidak memuliakannya, maka ini merupakan jalan orang-orang yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala (Yahudi).” (Majmu’ah Ar-Rasa’il An-Najdiyyah, 1/11-12. Dinukil dari Al-Iqna’, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, hal.132-133)

6. Tuduhan: Keras dalam berdakwah (inkarul munkar)
Bantahan:
Tuduhan ini sangat tidak beralasan. Karena justru beliaulah orang yang sangat perhatian dalam masalah ini. Sebagaimana nasehat beliau kepada para pengikutnya dari penduduk daerah Sudair yang melakukan dakwah (inkarul munkar) dengan cara keras. Beliau berkata: “Sesungguhnya sebagian orang yang mengerti agama terkadang jatuh dalam kesalahan (teknis) dalam mengingkari kemungkaran, padahal posisinya di atas kebenaran. Yaitu mengingkari kemungkaran dengan sikap keras, sehingga menimbulkan perpecahan di antara ikhwan… Ahlul ilmi berkata: ‘Seorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar membutuhkan tiga hal: berilmu tentang apa yang akan dia sampaikan, bersifat belas kasihan ketika beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar terhadap segala gangguan yang menimpanya.’ Maka kalian harus memahami hal ini dan merealisasikannya. Sesungguhnya kelemahan akan selalu ada pada orang yang mengerti agama, ketika tidak merealisasikannya atau tidak memahaminya. Para ulama juga menyebutkan bahwasanya jika inkarul munkar akan menyebabkan perpecahan, maka tidak boleh dilakukan. Aku mewanti-wanti kalian agar melaksanakan apa yang telah kusebutkan dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena, jika kalian tidak melaksanakannya niscaya perbuatan inkarul munkar kalian akan merusak citra agama. Dan seorang muslim tidaklah berbuat kecuali apa yang membuat baik agama dan dunianya.”(Lihat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 176)

7. Tuduhan: Muhammad bin Abdul Wahhab itu bukanlah seorang yang berilmu. Dia belum pernah belajar dari para syaikh, dan mungkin saja ilmunya dari setan![9]
Jawaban:
Pernyataan ini menunjukkan butanya tentang biografi Asy-Syaikh, atau pura-pura buta dalam rangka penipuan intelektual terhadap umat.
Bila ditengok sejarahnya, ternyata beliau sudah hafal Al-Qur’an sebelum berusia 10 tahun. Belum genap 12 tahun dari usianya, sudah ditunjuk sebagai imam shalat berjamaah. Dan pada usia 20 tahun sudah dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah itu rihlah (pergi) menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa’, Bashrah (yang kedua kalinya), Zubair, kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya pun banyak [10], di antaranya adalah:

Di Najd: Asy-Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman [11] dan Asy-Syaikh Ibrahim bin Sulaiman [12].
Di Makkah: Asy-Syaikh Abdullah bin Salim bin Muhammad Al-Bashri Al-Makki Asy-Syafi’i [13].
Di Madinah: Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif [14]. Asy-Syaikh Muhammad Hayat bin Ibrahim As-Sindi Al-Madani [15], Asy-Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Ajluni Asy-Syafi’i [16], Asy-Syaikh ‘Ali Afandi bin Shadiq Al-Hanafi Ad-Daghistani [17], Asy-Syaikh Abdul Karim Afandi, Asy-Syaikh Muhammad Al Burhani, dan Asy-Syaikh ‘Utsman Ad-Diyarbakri.
Di Bashrah: Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i [18]. Di Ahsa’: Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif Asy-Syafi’i.

8. Tuduhan: Tidak menghormati para wali Allah, dan hobinya menghancurkan kubah/ bangunan yang dibangun di atas makam mereka.
Jawaban:
Pernyataan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak menghormati para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan tuduhan dusta. Beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku menetapkan (meyakini) adanya karamah dan keluarbiasaan yang ada pada para wali Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya saja mereka tidak berhak diibadahi dan tidak berhak pula untuk diminta dari mereka sesuatu yang tidak dimampu kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” [19]

Adapun penghancuran kubah/bangunan yang dibangun di atas makam mereka, maka beliau mengakuinya –sebagaimana dalam suratnya kepada para ulama Makkah–.[20] Namun hal itu sangat beralasan sekali, karena kubah/ bangunan tersebut telah dijadikan sebagai tempat berdoa, berkurban dan bernadzar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara Asy-Syaikh sudah mendakwahi mereka dengan segala cara, dan beliau punya kekuatan (bersama waliyyul amri) untuk melakukannya, baik ketika masih di ‘Uyainah ataupun di Dir’iyyah.
Hal ini pun telah difatwakan oleh para ulama dari empat madzhab. Sebagaimana telah difatwakan oleh sekelompok ulama madzhab Syafi’i seperti Ibnul Jummaizi, Azh-Zhahir At-Tazmanti dll, seputar penghancuran bangunan yang ada di pekuburan Al-Qarrafah Mesir. Al-Imam Asy-Syafi’i sendiri berkata: “Aku tidak menyukai (yakni mengharamkan) pengagungan terhadap makhluk, sampai pada tingkatan makamnya dijadikan sebagai masjid.” Al-Imam An-Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzab dan Syarh Muslim mengharamkam secara mutlak segala bentuk bangunan di atas makam. Adapun Al-Imam Malik, maka beliau juga mengharamkannya, sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnu Rusyd. Sedangkan Al-Imam Az-Zaila’i (madzhab Hanafi) dalam Syarh Al-Kanz mengatakan: “Diharamkan mendirikan bangunan di atas makam.” Dan juga Al-Imam Ibnul Qayyim (madzhab Hanbali) mengatakan: “Penghancuran kubah/ bangunan yang dibangun di atas kubur hukumnya wajib, karena ia dibangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh, hal.284-286)

Para pembaca, demikianlah bantahan ringkas terhadap beberapa tuduhan miring yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Untuk mengetahui bantahan atas tuduhan-tuduhan miring lainnya, silahkan baca karya-karya tulis Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian buku-buku para ulama lainnya seperti:

Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyyah, disusun oleh Abdurrahman bin Qasim An-Najdi
Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, karya Al-‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani Al-Hindi.
Raddu Auham Abi Zahrah, karya Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, demikian pula buku bantahan beliau terhadap Abdul Karim Al-Khathib.
Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi.
‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As Salafiyyah, karya Dr. Shalih bin Abdullah Al-’Ubud.
Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu’ayyidin, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, dan sebagainya.

Barakah Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah yang penuh barakah. Buahnya pun bisa dirasakan hampir di setiap penjuru dunia Islam, bahkan di dunia secara keseluruhan.

Di Jazirah Arabia [21]
Di Jazirah Arabia sendiri, pengaruhnya luar biasa. Berkat dakwah tauhid ini mereka bersatu yang sebelumnya berpecah belah. Mereka mengenal tauhid, ilmu dan ibadah yang sebelumnya tenggelam dalam penyimpangan, kebodohan dan kemaksiatan. Dakwah tauhid juga mempunyai peran besar dalam perbaikan akhlak dan muamalah yang membawa dampak positif bagi Islam itu sendiri dan bagi kaum muslimin, baik dalam urusan agama ataupun urusan dunia mereka. Berkat dakwah tauhid pula tegaklah Daulah Islamiyyah (di Jazirah Arabia) yang cukup kuat dan disegani musuh, serta mampu menyatukan negeri-negeri yang selama ini berseteru di bawah satu bendera. Kekuasaan Daulah ini membentang dari Laut Merah (barat) hingga Teluk Arab (timur), dan dari Syam (utara) hingga Yaman (selatan), daulah ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan Daulah Su’udiyyah I. Pada tahun 1233 H/1818 M daulah ini diporak-porandakan oleh pasukan Dinasti Utsmani yang dipimpin Muhammad ‘Ali Basya. Pada tahun 1238 H/1823 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah II yang diprakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Su’ud, dan runtuh pada tahun 1309 H/1891 M. Kemudian pada tahun 1319 H/1901 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah III yang diprakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal bin Turki Alu Su’ud. Daulah Su’udiyyah III ini kemudian dikenal dengan nama Al-Mamlakah Al-’Arabiyyah As-Su’udiyyah, yang dalam bahasa kita biasa disebut Kerajaan Saudi Arabia. Ketiga daulah ini merupakan daulah percontohan di masa ini dalam hal tauhid, penerapan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat Islam, keamanan, kesejahteraan dan perhatian terhadap urusan kaum muslimin dunia (terkhusus Daulah Su’udiyyah III). Untuk mengetahui lebih jauh tentang perannya, lihatlah kajian utama edisi ini/Barakah Dakwah Tauhid.

Di Dunia Islam [22]
Dakwah tauhid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merambah dunia Islam, yang terwakili pada Benua Asia dan Afrika, barakah Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyelimutinya. Di Benua Asia dakwah tersebar di Yaman, Qatar, Bahrain, beberapa wilayah Oman, India, Pakistan dan sekitarnya, Indonesia, Turkistan, dan Cina. Adapun di Benua Afrika, dakwah Tauhid tersebar di Mesir, Libya, Al-Jazair, Sudan, dan Afrika Barat. Dan hingga saat ini dakwah terus berkembang ke penjuru dunia, bahkan merambah pusat kekafiran Amerika dan Eropa.

Pujian Ulama Dunia terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Dakwah Beliau

Pujian ulama dunia terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya amatlah banyak. Namun karena terbatasnya ruang rubrik, cukuplah disebutkan sebagiannya saja.[23]

1. Al-Imam Ash-Shan’ani (Yaman).
Beliau kirimkan dari Shan’a bait-bait pujian untuk Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Bait syair yang diawali dengan:
Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana
Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya

2. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu (Yaman). Ketika mendengar wafatnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau layangkan bait-bait pujian terhadap Asy-Syaikh dan dakwahnya. Di antaranya:
Telah wafat tonggak ilmu dan pusat kemuliaan
Referensi utama para pahlawan dan orang-orang mulia
Dengan wafatnya, nyaris wafat pula ilmu-ilmu agama
Wajah kebenaran pun nyaris lenyap ditelan derasnya arus sungai

3. Muhammad Hamid Al-Fiqi (Mesir). Beliau berkata: “Sesungguhnya amalan dan usaha yang beliau lakukan adalah untuk menghidupkan kembali semangat beramal dengan agama yang benar dan mengembalikan umat manusia kepada apa yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an…. dan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta apa yang diyakini para shahabat, para tabi’in dan para imam yang terbimbing.”

4. Dr. Taqiyuddin Al-Hilali (Irak). Beliau berkata: “Tidak asing lagi bahwa Al-Imam Ar-Rabbani Al-Awwab Muhammad bin Abdul Wahhab, benar-benar telah menegakkan dakwah tauhid yang lurus. Memperbaharui (kehidupan umat manusia) seperti di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Dan mendirikan daulah yang mengingatkan umat manusia kepada daulah di masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin.”

5. Asy-Syaikh Mulla ‘Umran bin ‘Ali Ridhwan (Linjah, Iran). Beliau –ketika dicap sebagai Wahhabi– berkata:
Jikalau mengikuti Ahmad dicap sebagai Wahhabi
Maka kutegaskan bahwa aku adalah Wahhabi
Kubasmi segala kesyirikan dan tiadalah ada bagiku
Rabb selain Allah Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha Pemberi

6. Asy-Syaikh Ahmad bin Hajar Al-Buthami (Qatar). Beliau berkata: “Sesungguhnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi adalah seorang da’i tauhid, yang tergolong sebagai pembaharu yang adil dan pembenah yang ikhlas bagi agama umat.”

7. Al ‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani (India). Kitab beliau Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, sarat akan pujian dan pembelaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.

8. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Syam). Beliau berkata: “Dari apa yang telah lalu, nampaklah kedengkian yang sangat, kebencian durjana, dan tuduhan keji dari para penjahat (intelektual) terhadap Al-Imam Al Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dan mengaruniainya pahala–, yang telah mengeluarkan manusia dari gelapnya kesyirikan menuju cahaya tauhid yang murni…”

9. Ulama Saudi Arabia. Tak terhitung banyaknya pujian mereka terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya, turun-temurun sejak Asy-Syaikh masih hidup hingga hari ini.

Penutup

Akhir kata, demikianlah sajian kami seputar Wahhabi yang menjadi momok di Indonesia pada khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Semoga sajian ini dapat menjadi penerang di tengah gelapnya permasalahan, dan pembuka cakrawala berfikir untuk tidak berbicara dan menilai kecuali di atas pijakan ilmu.
Wallahu a’lam bish-shawab.

[1] Biografi beliau bisa dilihat pada Majalah Asy Syari’ah, edisi 21, hal. 71.
[2] Untuk lebih rincinya lihat kajian utama edisi ini/Musuh-musuh Dakwah Tauhid.
[3] Sebagaimana yang dinyatakan Ahmad Abdullah Al-Haddad Baa ‘Alwi dalam kitabnya Mishbahul Anam, hal. 5-6 dan Ahmad Zaini Dahlan dalam dua kitabnya Ad-Durar As-Saniyyah Firraddi ‘alal Wahhabiyyah, hal. 46 dan Khulashatul Kalam, hal. 228-261.
[4] Sebagaimana dalam Mishbahul Anam.
[5] Sebagaimana yang diterangkan pada kajian utama edisi ini/Hubungan Najd dengan Daulah Utsmaniyyah.
[6] Untuk lebih rincinya bacalah kitab Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir.
[7] Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu ‘Abidin Asy-Syami dalam kitabnya Raddul Muhtar, 3/3009.
[8] Termaktub dalam risalah Sulaiman bin Suhaim.
[9] Tuduhan Sulaiman bin Muhammad bin Suhaim, Qadhi Manfuhah.
[10] Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/143-171.
[11] Ayah beliau, dan seorang ulama Najd yang terpandang di masanya dan hakim di ‘Uyainah.
[12] Paman beliau, dan sebagai hakim negeri Usyaiqir.
[13] Hafizh negeri Hijaz di masanya.
[14] Seorang faqih terpandang, murid para ulama Madinah sekaligus murid Abul Mawahib (ulama besar negeri Syam). Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mendapatkan ijazah dari guru beliau ini untuk meriwayatkan, mempelajari dan mengajarkan Shahih Al-Bukhari dengan sanadnya sampai kepada Al-Imam Al-Bukhari serta syarah-syarahnya, Shahih Muslim serta syarah-syarahnya, Sunan At-Tirmidzi dengan sanadnya, Sunan Abi Dawud dengan sanadnya, Sunan Ibnu Majah dengan sanadnya, Sunan An-Nasa‘i Al-Kubra dengan sanadnya, Sunan Ad-Darimi dan semua karya tulis Al-Imam Ad-Darimi dengan sanadnya, Silsilah Al-‘Arabiyyah dengan sanadnya dari Abul Aswad dari ‘Ali bin Abi Thalib, semua buku Al-Imam An-Nawawi, Alfiyah Al-’Iraqi, At-Targhib Wat Tarhib, Al-Khulashah karya Ibnu Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan seluruh karya tulis Ibnu Hisyam, semua karya tulis Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani, buku-buku Al-Qadhi ‘Iyadh, buku-buku qira’at, kitab Al-Qamus dengan sanadnya, Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i, Muwaththa’ Al-Imam Malik, Musnad Al-Imam Ahmad, Mu’jam Ath-Thabrani, buku-buku As-Suyuthi dsb.
[15] Ulama besar Madinah di masanya.
[16] Penulis kitab Kasyful Khafa‘ Wa Muzilul Ilbas ‘Amma Isytahara ‘Ala Alsinatin Nas.
[17] Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bertemu dengannya di kota Madinah dan mendapatkan ijazah darinya seperti yang didapat dari Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif.
[18] Ulama terkemuka daerah Majmu’ah, Bashrah.
[19] Lihat Tash-hihu Khatha’in Tarikhi Haula Al Wahhabiyyah, hal. 119
[20] Ibid, hal. 76.
[21] Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin Abdullah As-Salman, yang dimuat dalam Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah edisi. 21, hal. 140-145.
[22] Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin Abdullah As Salman, yang dimuat dalam Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah edisi. 21, hal.146-149.
[23] Untuk mengetahui lebih luas, lihatlah kitab Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu’ayyidin, hal. 82-90, dan ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 2/371-474.

Sumber: Majalah Asy Syariah
Edisi II/No 22/1427 H/2006
Judul Asli: Siapakah Wahhabi ?
Halaman 5-11